Riekha Pricilia

Perempuan, 21 Tahun

Riau, Indonesia

Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. <div style='background-color: none transparent;'></div>
::
PLAY
Faceblog-Riekha
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Senin, 25 April 2011

TINGKAH LAKU PROSOSIAL


TINGKAH LAKU PROSOSIAL
A.    Tingkah Laku Altruistik
Perlaku prososial : tindakan yang menguntungkan orang lain tetapi tidak memberikan keuntungan yang nyata bagi orang yang melakukan tindakan tersebut.
Altruisme adalah tingkah laku yang merefleksikan pertimbangan untuk tidak mementingkan diri sendiri demi kebaikan orang lain.

B.     Model Pengambilan Keputusan Untuk Membantu Orang Lain
Ø  Menyadari Adanya Situasi Darurat.
Situasi darurat tidak dapat terjadi menurut jadwal, jadi tidak ada cara untuk mengantisipasi kapan, dimana masalah yang tidak diharapkan akan terjadi.
Darley dan Boston menyatakan bahwa ketika seseorang dipenuhi rasa kekhawatiran-kekhawatiran pribadi, maka tingkah laku prososial cenderung tidak akan terjadi.
Ø  Menginterprestasikan Keadaan Sebagai Situasi Darurat.
Menurut Macrae & Milne, biasanya bystander akan lebih baik mengasumsikan informasi mengenai yang sedang terjadi dengan penjelasan yang bersifat rutin dan sehari-hari daripada yang sifatnya tidak biasa atau aneh.
Ø  Mengasumsikan Bahwa Adalah Tanggung Jawabnya Untuk Menolong.
Tingkah laku prososial akan dilakukan hanya jika bystander tersebut mengambil tanggung jawab untuk menolong. Misalnya polisi adalah mereka yang harus melakukan sesuatu terhadap kejahatan.
Ø  Mengetahui Apa Yang Harus Dilakukan.
Bystander yang sedang berada pada situasi darurat, harus mempertimbangkan apakah ia tahu tentang cara menolong orang yang berada pada situasi darurat tersebut.
Ø  Mengambil Keputusan Terakhir untuk Menolong.
Pertolongan pada tahap akhir ini dapat dihambat oleh rasa takut terhadap adanya konsekuensi negative yang potensial. Perilaku menolong mungkin tidak akan muncul karena biaya potensialnya dinilai terlalu tinggi, kecuali jika orang memiliki motivasi yang luar biasa besar untuk membantu.

C.     Pengaruh Pribadi Dalam Tingkah Laku Prososial
Faktor-faktor pengaruh kemungkinan bystander menolong atau tidak, yaitu :
1.      Menolong Orang Yang Disukai.
2.      Atribusi Menyangkut Tanggung Jawab Korban.
3.      Model-model Prososial: Kekuatan dari Contoh Positif.


D.    Pencarian dan Penerimaan Bantuan
·         Meminta Pertolongan, Cara yang langsung dan paling efektif bagi seorang korban untuk mengurangi ambiguitas adalah untuk meminta pertolongan dengan jelas. Namun tampaknya jelas dan mudah untuk meminta pertolongan, tetapi mereka yang membutuhkan sering kali tidak dapat melakukannya karena berbagai alasan.
·         Menerima Pertolongan, Dapat menurunkan self-esteem seseorang terutama jika penolong adalah teman atau seseorang yang sama dengan si penerima pertolongan dari segi usia, pendidikan, dan karakteristik lainnya.
Membentuk Perilaku Prososial
Orang tua atau guru yang mengasuh anak dengan menggunakan penjelasan dan diskusi serta pertimbangan agar anak dapat mengerti mengapa ia diharapkan berkelakuan tertentu merupakan pola asuh yang menunjang terwujudnya perilaku prososial.
Yang perlu diperhatikan bahwa anak berperilaku mempunyai kecenderungan untuk meniru dan terutama perilaku orang tua atau guru harus memberikan contoh yang mencerminkan perilaku prososial pula.
PERPEDAAN TINGKAT PERILAKU PROSOSIAL REMAJA DITINJAU DARI JENIS KELAMIN
Pada dasarnya manusia adalah makhluk social, manusia tidak dapat hidup sendiri, selalu terjadi saling ketergantungan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya dan untuk mempertahankan kebersamaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup, manusia perlu mengembangkan sikap kooperatif serta sikap untuk berperilaku menolong terhadap sesamanya atau yang sering disebut sebagai perilaku prososial.
Perilaku prososial adalah segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain yang memberikan konsekuensi positif bagi penerima tanpa memperhatikan motif-motif si penolong.
Jenis kelamin adalah istilah yang membedakan antara laki-laki dan perempuan secara biologis, dan dibawa sejak lahir dengan sejumlah sifat yang diterima orang sebagai karakteristik laki-laki dan perempuan.
Peranan Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Prososial Remaja
Ada tiga peran orang tua atau keluarga  yang sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku prososial remaja yaitu :
·         Peran sosialisasi
·         Peran edukasi, dan
·         Peran religi
Adapun bentuk-bentuk perilaku prososial tersebut antara lain : Berbagi, bekerjasama, menolong, jujur, menyumbang, dan merawat.
Perilaku prososial mempunyai konsekuensi social positif yang ditunjukkan bagi kesejahteraan sosial ( social welfare ).
Bentuk-bentuk dari kesejahteraan sosial yang merupakan hasil dari perilaku prososial remaja tersebut antara lain terciptanya kerukunan, interaksi yang baik antar warga, erat persaudaraan, dan tidak adanya diskriminasi dalam masyarakat.
E.     Menuju Masyarakat Prososial
Adapun karakteristik kepribadian bystander yang dapat mendorong tingkah laku prososial, yakni:
1.      Empati
Individu yang menolong memiliki rasa  empati yang tinggi daripada mereka yang tidak menolong.
2.      Komponen kognitif
3.      Kebutuhan untuk Disetujui
4.      Kepercayaan Interpersonal
Individu yang memiliki kepecayaan  interpersonal yang tinggi akan terlibat dalam lebih banyak tingkah laku prososial daripada individu yang tidak mempercayai orang lain.
5.      Emosi yang positif
6.      Sosialibilitas dan keramahan
7.      Tidak agresif
8.      Percaya akan dunia yang adil
Individu yang menolong memper sepsikan dunia sebagai tempat yang adil dan percaya bahwa tingkah laku yang baik diberi imbalan (reward) dan tingkah laku yang buruk diberi hukuman  (punishment).
9.      Tanggung jawab sosial
Individu yang menolong mengekspresikan kepercayaan bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik untuk menolong orang yang membutuhkan.
10.  Locus of Control Internal
Kepercayaan individual dimana individu dapat memilih  untuk bertingkah laku dalam cara memaksimalkan hasil akhir yang baik dan meminimalkan yang buruk. orang yang monolong mempunyai locus of control internal yang tinggi.
11.  Tidak Adanya Egosentris
Individu yang menolong memiliki sifat egosentris yang rendah.
12.  Generativitas atau Komitmen pada Diri Sendiri
13.  Bukan Machiavellian
Dimana individu tidak merujuk pada orang-orang yang dikarakteristikkan oleh ketidakpercayaan, sinisme, egosentris, dan kecenderungan untuk memanipulasi orang lain. Orang yang Machiavellianism ini cenderung untuk tidak dapat menunjukkan perilaku prososial.
14.  Kesediaan untuk Bertindak

PERILAKU AGRESIF
Tindakan kejahatan kekerasan yang terus meningkat ini merupakan contoh dari perilaku agresif yaitu perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain ( Myers, 1996 ).
Agresif adalah salah satu naluri dasar manusia yaitu naluri untuk mati (thanatos/death instinct) yang bertujuan untuk mempertahankan jenisnya (survival) (Freud, 1930-1963 ).
Perilaku agresif terutama berasal dari insting berkelahi (fighting instinct) yang diwariskan (inherited) untuk memastikan bahwa hanya pria yang terkuat yang akan mendapatkan pasangan dan mewariskan gen mereka pada generasi berikutnya (Lorenz, 1974).
Bentuk dari thanatos/death instinct ini adalah naluri agresif yang menyebabkan seseorang ingin menyerang orang lain, berkelahi, berperang, atau marah.
Perilaku agresif ini dapat terjadi karena factor disposisi/kepribadian (nature) dan factor situasional (nurture). Kritik yang banyak bermunculan terhadap pendukung teori nature menunjukkan bahwa kelompok teori ini belum dapat menjelaskan dengan tepat pengaruh factor disposisi/kepribadian terhadap perilaku agresif. Kekurangan dari teori ini adalah tidak memperhatikan keanekaragaman yang terdapat pada tiap individu yang disebabkan oleh factor lingkungan.
Melihat banyaknya kritik yang bermunculan, para ahli psikologi lainnya berusaha untuk menjelaskan perilaku agresif dari sudut pandang yang berbeda yaitu berdasarkan faktor situasional (nurture). Salah satu teori yang muncul adalah teori social learning perspective (e.g.,Bandura, 1997) yang berawal dari sebuah ide bahwa manusia tidak lahir dengan sejumlah respons-respons agresif tetapi mereka harus memperoleh respons ini dengan cara mengalaminya secara langsung (direct experience) atau dengan mengobservasi tingkah laku manusia lainnya (Anderson & Bushman, 2001 ; Bushman & Anderson, 2002).
Teori social learning perspective berusaha menjelaskan bahwa kecenderungan seseorang untuk berperilaku agresif tergantung pada banyak faktor situasional, yaitu pengalaman masa lalu orang tersebut, rewards yang diasosiasikan dengan tindakan agresif pada masa lalu atau saat ini, dan sikap serta nilai yang membentuk pemikiran orang tersebut mengenai perilaku agresif.

Proses-proses belajar sosial yang dapat menimbulkan perilaku agresif, yaitu :
1.      Classical conditioning. Perilau agresif terjadi karena adanya proses smengasosiasikan suatu stimulus dengan stimulus lainnya.
2.      Operant Conditioning. Perilaku agresif terjadi akibat adanya reward yang diperoleh setelah melakukan perilaku agresif tersebut.
3.      Modeling ( Meniru ). Perilaku agresif terjadi karena seseorang meniru seseorang yang ia kagumi.
4.      Observational Learning. Perilaku agresif terjadi karena seseorang mengobservasi individu lain melakukannya baik secara langsung maupun tidak langsung.
5.      Social Comparison. Perilaku agresif terjadi karena seseorang membandingkan dirinya dengan kelompok atau orang lain yang disukai.
6.      Learning by Experience. Perilaku agresif terjadi karena pengalaman masa lalu yang dimiliki oleh orang tersebut.

Nature VS Nurture
Individu yang tidak mempunyai sifat agresif cenderung akan menampilkan perilaku agresif jika ia telah mempelajarinya dari lingkungannya. Sebaliknya, individu yang mempunyai sifat agresif cenderung tidak akan menampilkan perilaku agresif jika lingkungannya tidak mendukung atau mengajarinya berperilaku agresif.
Selain itu, penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa pada hewan yang lebih rendah, banyak respons yang selama ini dianggap instinctive murni ternyata sebenarnya adalah respons yang dipelajari. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif lebih merupakan perilaku yang dipelajari dari lingkungan (nurture) daripada perilaku yang diwariskan (nature).

0 Komentar: