Riekha Pricilia

Perempuan, 21 Tahun

Riau, Indonesia

Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. <div style='background-color: none transparent;'></div>
::
PLAY
Faceblog-Riekha
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label RETARDASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RETARDASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2012

mental retardation


Retardasi Mental (mental retardation) adalah keterlambatan yang mencakup rentang yang luas dalam perkembangan fungsi kognitif dan social (APA,2000)
Retardasi mental didiagnosis berdasarkan kombinasi dari 3 kriteria :
1. skor rendah pada
tes intelegensi formal (skor kira-kira 70 atau di bawahnya)
2. adanya bukti hendaknya dalam melakukan tugas sehari-hari dibandingkan dengan orang lain yang seusia dalam lingkup budaya tertentu, dan
3. perkembangan gangguan terjadi pada usia 18 tahun

Penyebab Retardasi Mental
- Sindrom Down dan Abnormalitas Kromosom Lainnya
sindrom down adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromosom pada pasangan ke-21 dan ditandai dengan retardasi mental serta anomli fisik yang beragam.
- Sindrom Fragile X dan Abnormalitas Genetic Lainnya
Sindrom fragile X merupakan bentuk retardasi mental yang diwariskan dan disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X
- Phenylketonuria (PKU)
Merupakan gangguan yang menghambat metabolisme asam phenylpyruvic, menyebabkan retardasi mental kecuali bila pola makan amat dikontrol.
- Faktor-faktor Prenatal
Beberapa kasus retardasi mental disebabkan oleh infeksi atau penyalah gunaan obat selama ibu mengandung.
Penyakit ibu yang juga dapat menyebabkan retardasi pada anak adalah sifilis, cytomegalovirus, dan herpes genital
- Penyebab-penyebab Budaya-Keluarga
Suatu bentuk retardasi mental ringan uang dipengaruhi oleh lingkungan yang miskin. Faktor-faktor psikososial, seperti lingkungan rumah atau social yang miskin, yaitu yang memberi stimulasi intelektual, penelantaran atau kekerasan dari orang tua, dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental pada anak-anak.

Intervensi
Pelayanan yang dibutuhkan oleh anak-anak dengan retardasi mental untuk memenuhi tuntutan perkembangan, sebagian tergantung pada derajat keparahan dan tipe retardasi (Dykens & Hodapp, 1997; Snell,1997)
Anak retardasi mental adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dalam kecerdasan, tidak hanya lemah dalam fungsi kognitif tetapi juga psikomotorik. Masalah yang dikaji: (1) Bagaimanakah subjek gambar yang diekspresikan oleh anak penderita retardasi mental siswa SLB-C Yaspenlub Demak?, (2) Bagaimanakah pemilihan perwujudan unsur gambar anak penderita retardasi mental siswa SLB-C Yaspenlub Demak? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah ekspresi subjek gambar, perwujudan unsur gambar, dan karakteristik gambar anak penderita retardasi mental di SLB- C Yaspenlub Demak. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek gambar yang diekspresikan anak adalah benda- benda dan lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Unsur-unsur gambar yang ditampilkan sebatas raut- raut geometris yang tidak sempurna, dengan garis “mlethot” dan warna yang terkesan berbentuk coretan, masih terkesan semampunya. Saran yang dapat dikemukakan adalah supaya merangsang kebebasan anak mengungkapkan imajinasi dengan metode pembelajaran menggambar bebas dengan tema yang ditentukan. Memberikan pengetahuan dan pelatihan yang maksimal tentang cara mewarnai yang baik, karena menggambar dan mewarnai adalah sarana pengembang kreativitas anak. Keterbelakangan Mental   DEFINISI
Keterbelakangan Mental (Retardasi Mental, RM) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata disertai dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri (berpelilakuadaptif), yang mulai timbul sebelum usia 18 tahun.

Orang-orang yang secara mental mengalami keterbelakangan, memiliki perkembangan kecerdasan (intelektual) yang lebih rendah dan mengalami kesulitan dalam proses belajar serta adaptasi sosial.
3% dari jumlah penduduk mengalami keterbelakangan mental.

PENYEBAB
Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan.
Pada sebagian besar kasus RM, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25% kasus yang memiliki penyebab yang spesifik.

Secara kasar, penyebab RM dibagi menjadi beberapa kelompok:
  1. Trauma (sebelum dan sesudah lahir)
    - Perdarahan intrakranial sebelum atau sesudah lahir
    - Cedera hipoksia (kekurangan oksigen), sebelum, selama atau sesudah lahir
    - Cedera kepala yang berat
  2. Infeksi (bawaan dan sesudah lahir)
    - Rubella kongenitalis
    - Meningitis
    - Infeksi sitomegalovirus bawaan
    - Ensefalitis
    - Toksoplasmosis kongenitalis
    - Listeriosis
    - Infeksi HIV
  3. Kelainan kromosom
    - Kesalahan pada jumlah kromosom (Sindroma Down)
    - Defek pada kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Willi)
    - Translokasi kromosom dan sindroma cri du chat
  4. Kelainan genetik dan kelainan metabolik yang diturunkan
    - Galaktosemia
    - Penyakit Tay-Sachs
    - Fenilketonuria
    - Sindroma Hunter
    - Sindroma Hurler
    - Sindroma Sanfilippo
    - Leukodistrofi metakromatik
    - Adrenoleukodistrofi
    - Sindroma Lesch-Nyhan
    - Sindroma Rett
    - Sklerosis tuberosa
  5. Metabolik
    - Sindroma Reye
    - Dehidrasi hipernatremik
    - Hipotiroid kongenital
    - Hipoglikemia (diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik)
  6. Keracunan
    - Pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil
    - Keracunan metilmerkuri
    - Keracunan timah hitam
  7. Gizi
    - Kwashiorkor
    - Marasmus
    - Malnutrisi
  8. Lingkungan
    - Kemiskinan
    - Status ekonomi rendah
    - Sindroma deprivasi.
GEJALA
Tingkatan Retardasi Mental
Tingkat
Kisaran IQ
Kemampuan Usia Prasekolah
(sejak lahir-5 tahun)
Kemampuan Usia Sekolah
(6-20 tahun)
Kemampuan Masa Dewasa
(21 tahun keatas)
Ringan
52-68
·  Bisa membangun kemampuan sosial & komunikasi
·  Koordinasi otot sedikit terganggu
·  Seringkali tidak terdiagnosis
·  Bisa mempelajari pelajaran kelas 6 pada akhir usia belasan tahun
·  Bisa dibimbing ke arah pergaulan sosial
·  Bisa dididik
Biasanya bisa mencapai kemampuan kerja & bersosialisasi yg cukup, tetapi ketika mengalami stres sosial ataupun ekonomi, memerlukan bantuan
Moderat
36-51
·  Bisa berbicara & belajar berkomunikasi
·  Kesadaran sosial kurang
·  Koordinasi otot cukup
·  Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial & pekerjaan
·  Bisa belajar bepergian sendiri di tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik
·  Bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melakukan pekerjaan yg tidak terlatih atau semi terlatih dibawah pengawasan
·  Memerlukan pengawasan & bimbingan ketika mengalami stres sosial maupun ekonomi yg ringan
Berat
20-35
·  Bisa mengucapkan beberapa kata
·  Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri
·  Tidak memiliki kemampuan ekspresif atau hanya sedikit
·  Koordinasi otot jelek
·  Bisa berbicara atau belajar berkomunikasi
·  Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana
·  Bisa memelihara diri sendiri dibawah pengawasan
·  Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali
Sangat berat
19 atau kurang
·  Sangat terbelakang
·  Koordinasi ototnya sedikit sekali
·  Mungkin memerlukan perawatan khusus
·  Memiliki beberapa koordinasi otot
·  Kemungkinan tidak dapat berjalan atau berbicara
·  Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara
·  Bisa merawat diri tetapi sangat terbatas
·  Memerlukan perawatan khusus


Anak dengan MR ringan (IQ 52-68) bisa mencapai kemampuan membaca sampai kelas 4-6. Meskipun memiliki kesulitan membaca, tetapi mereka dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan serta pendidikan dan pelatihan khusus.
Biasanya tidak ditemukan kelainan fisik, tetapi mereka bisa menderita epilepsi.
Mereka seringkali tidak dewasa dan kapasitas perkembangan interaksi sosialnya kurang.
Mereka mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru dan mungkin memiliki penilaian yang buruk.
Mereka jarang melakukan penyerangan yang serius, tetapi bisa melakukan kejahatan impulsif.

Anak-anak dengan RM moderat (IQ 36-51) jelas mengalami kelambatan dalam belajar berbicara dan keterlambatan dalam mencapai tingkat perkembangan lainnya (misalnya duduk dan berbicara). Dengan latihan dan dukungan dari lingkungannya, mereka dapat hidup dengan tingkat kemandirian tertentu.

Anak-anak dengan RM berat (IQ 20-35) dapat dilatih meskipun agak lebih susah dibandingkan dengan RM moderat.

Anak-anak dengan RM sangat berat (IQ 19 atau kurang) biasanya tidak dapat belajar berjalan, berbicara atau memahami.

Angka harapan hidup untuk anak-anak dengan RM mungkin lebih pendek, tergantung kepada penyebab dan beratnya RM. Biasanya, semakin berat RMnya maka semakin kecil angka harapan hidupnya.

DIAGNOSA
Seorang anak RM menunjukkan perkembangan yang secara signifikan lebih lambat dibandingkan dengan anak lain yang sebaya.

Tingkat kecerdasan yang berada dibawah rata-rata bisa dikenali dan diukur melalui tes kecerdasan standar (tes IQ), yang menunjukkan hasil kurang dari 2 SD (standar deviasi) dibawah rata-rata (biasanya dengan angka kurang dari 70, dari rata-rata 100).

PENGOBATAN
Tujuan pengobatan yang utama adalah mengembangkan potensi anak semaksimal mungkin.
Sedini mungkin diberikan pendidikan dan pelatihan khusus, yang meliputi pendidikan dan pelatihan kemampuan sosial untuk membantu anak berfungsi senormal mungkin.
Pendekatan perilaku sangat penting dalam memahami dan bekerja sama dengan anak RM.

PENCEGAHAN
Konsultasi genetik akan memberikan pengetahuan dan pengertian kepada orang tua dari anak RM mengenai penyebab terjadinya RM.

Vaksinasi MMR secara dramatis telah menurunkan angka kejadian rubella (campak Jerman) sebagai salah satu penyebab RM.

Amniosentesis dan contoh vili korion merupakan pemeriksaan diagnostik yang dapat menemukan sejumlah kelainan, termasuk kelainan genetik dan korda spinalis atau kelainan otak pada janin.
Setiap wanita hamil yang berumur lebih dari 35 tahun dianjurkan untuk menjalani amniosentesis dan pemeriksaan vili korion, karena mereka memiliki resiko melahirkan bayi yang menderita sindroma Down.
USG juga dapat membantu menemukan adanya kelainan otak.
Untuk mendeteksi sindroma Down dan spina bifida juga bisa dilakukan pengukuran kadar alfa-protein serum.
Diagnosis RM yang ditegakkan sebelum bayi lahir, akan memberikan pilihan aborsi atau keluarga berencana kepada orang tua.

Tindakan pencegahan lainnya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya RM:
·  Genetik
Penyaringan prenatal (sebelum lahir) untuk kelainan genetik dan konsultasi genetik untuk keluarga-keluarga yang memiliki resiko dapat mengurangi angka kejadian RM yang penyebabnya adalah faktor genetik.
·  Sosial
Program sosial pemerintah untuk memberantas kemiskinan dan menyelenggarakan pendidikan yang baik dapat mengurangi angka kejadian RM ringan akibat kemiskinan dan status ekonomi yang rendah.
·  Keracunan
Program lingkungan untuk mengurangi timah hitam dan merkuri serta racun lainnya akan mengurangi RM akibat keracunan.
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan efek dari pemakaian alkohol dan obat-obatan selama kehamilan dapat mengurangi angka kejadian RM.
·  Infeksi
Pencegahan rubella kongenitalis merupakan contoh yang baik dari program yang berhasil untuk mencegah salah satu bentuk RM.
Kewaspadaan yang konstan (misalnya yang berhubungan dengan kucing, toksoplasmosis dan kehamilan), membantu mengurangi RM akibat toksoplasmosis.




Read More --►

Virus Campak dan Gangguan Otak


Telah ditemukan hubungan antara virus Campak dan kelainan pencernaan pada anak penyandang gangguan perkembangan otak
Menurut riset Molecular Pathology yang akan dipublikasikan pada musim panas mendapatang, telah ditemukan hubungan antara Virus campak dan penyakit peradangan saluran pencernaan. Para ahli berkesimpulan virus tersebut dapat menjadi pemicu timbulnya imunitas tubuh.
Kejadian ini ditemukan pada 75 dari 91 anak yang menderita peradangan saluran. Pada anak normal, hanya ditemukan 5 kasus dari 70 anak normal. Kesemuanya lebih banyak diderita oleh anak laki laki daripada anak perempuan.
Riset ini tidak secara spesifik melihat apakah anak anak yang diteliti tersebut telah divaksinasi MMR (Mumps Measles Rubella). Komentar editorial (View commentary ) tidak menyimpulkan mengenai hubungan antara MMR dan penyebab peradangan saluran pencernaan atau kelainan perkembangan otak. Editorial ini juga tidak menyatakan virus campak sebagai penyebab semua kasus autisme dan/atau penyakit peradangan saluran pencernaan.
Editorial juga menyimpulkan adanya bukti interaksi antara gangguan perkembangan otak dan gangguan pencernaan dan temuan ini penting untuk diperhatikan. Ilmuwan yang melakukan riset mengatakan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan2 penting sehubungan dengan ada tidaknya hubungan antara MMR dan temuan ini terutama mengenai jenis virus campak yang ditemukan pada anak penyandang autis dan virus yang ada pada vaksin MMR
Dalam pernyataan tertulisnya yang dimuat hari ini, Professor John OLeary, ahli molecular pathologist dari Rumah Sakit di Coombe Womens Hospital, Dublin dan pemimpin riset ini mengatakan:
Saya akan mempertahankan temuan dari riset yang kami lakukan ? hal ini telah menimbulkan banyak pertanyaan apakah virus campak punya andil dalam gangguan pencernaan yang dialami oleh penyandang gangguan perkembangan otak. Namun riset ini tidak ditujukkan untuk meneliti peran vaksin MMR dalam kaitannya dengan peradangan saluran pencernaan dan gangguan perkembangan otak. Hasil temuan kami ini tentunya tidak dapat digunakan untuk membuat konklusi ataupun kesimpulan mengenai ada tidaknya hubungan tersebut diatas.
Editor dari Jurnal Molecular Pathology, Professor John Crocker dan Dr David Burnett menambahkan: “Laporan medis ini dibuat oleh para ilmuwan dengan reputasi Internasional dan telah disetujui untuk dipublikasikan (peer review report). Temuan ini juga telah diakui secara internasional sebagai suatu hasil pengamatan penting dan pada saat yang sama telah menimbulkan banyak pertanyaan mengenai kemungkinan peran virus campak sebagai penyebab dari sebuah sindrom yang terdapat pada anak anak. Jurnal Medis ini juga tidak di tujukan untuk secara spesifik meneliti hubungan antara MMR, peradangan saluran pencernaan dan gangguan perkembangan otak. Peran MMR juga tidak disebutkan dalam jurnal medis ini.
Namun kami menyadari bahwa beberapa pembaca mungkin akan menganggap bahwa jurnal medis ini sedikit banyak menghubungkan antara MMR dan gangguan perkembangan otak. Karenanya kami membentuk suatu komisi yang terdiri dari dewan pengurus editor untuk mengomentari jurnal medis ini.
Komisi ini menegaskan kembali bahwa hasil riset ini merupakan temuan penting yang secara keseluruhan didasarkan atas data yang konsisten dan hubungannya dengan MMR sama sekali tidak disinggung dan bukan merupakan tujuan utama para ilmuwan untuk mengadakan riset ini.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Divisi Humas British Medical Association, BMA House, Tavistock Square, London WC1H 9JP, Tel: +44 (0)20 7383 6254 atau melalui email ke pressoffice@bma.org.uk
Dimuat seijin British Medical Association http://jcp.bmjjournals.com/ thanks to E. Wilkinson. Baca juga komentar/editorial A Morris dan D Aldulaimi http://jc














Read More --►