Riekha Pricilia

Perempuan, 21 Tahun

Riau, Indonesia

Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. <div style='background-color: none transparent;'></div>
::
PLAY
Faceblog-Riekha
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Minggu, 09 Juni 2013

Apa isi kolom agama di KTP ateis?

Apa isi kolom agama di KTP ateis?

Sejauh ini kolom agama diisi dengan agama orang tua, agama lama kami, atau dikosongkan. Sebenarnya perundangan di Indonesia sudah memungkinkan untuk mengosongkan kolom agama.
Pasal 64 ayat 2 UU no 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan menyebutkan, “…bagi Penduduk yang agamanya belm diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan atau bagi penghayat kepercayaan tidak diisi….” Pasal ini memberikan peluang bagi siapapun untuk mengosongkan kolom agama pada KTP-nya.

Namun demikian sepertinya tidak banyak ateis yang sudah mengosongkan kolom agama pada KTP-nya. Ada yang mengisinya dengan Budha, dengan alasan karena Budha adalah agama non-teis sehingga paling dekat dengan ateisme. Mengganti kolom agama tidaklaah semudah yang dibayangkan. Tidak adanya arus informasi yang baik dalam sistem pemerintahan kita membuat banyak sekali petugas petugas di level kelurahan yang tidak mengetahui bahwa undang undangnya sudah ada. Jangankan mengosongkan kolom agama, pindah agama pun pengurusannya cukup ribet di keluarahan. Jadi cukup banyak di luar sana yang sudah pindah kepercayaan namun belum mengganti keterangan di kolom agama.



Semua Artikel Tentang Ateis Berdasarkan Sumber:Anda Bertanya Ateis Menjawab

http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/
Read More --►

Apakah ateis itu komunis?

Apakah ateis itu komunis?

Ateisme tidak sama dengan komunisme. Ateisme adalah ketidakpercayaan terhadap keberadaan Tuhan dalam hal ini Tuhan personal, Sang Maha Pencipta, dan Maha Berkehendak. Sementara komunisme adalah ideologi ekonomi politik.

Oleh karena itu, tidak semua ateis adalah komunis dan tidak semua komunis adalah ateis. Seorang ateis bisa saja memiliki pandangan liberal, sekuler, kapitalis, atau juga komunis. Sementara itu, walaupun mungkin sebagian besar komunis adalah ateis, ada banyak orang beragama atau teis yang menganut komunisme sebagai ideologi ekonomi politiknya, di Indonesia contoh yang terkenal adalah Haji Misbach, sementara di India komunisme bukan hanya dirangkul, tetapi juga dipimpin oleh muslim, sementara di Amerika Latin, komunisme/marxisme mempengaruhi ajaran Katolik sehingga terbentuklah Teologi Pembebasan.

Komunisme adalah paham yang menolak kepemilikan barang pribadi dan beranggapan bahwa semua barang produksi harus menjadi milik bersama. Ini bertujuan agar tidak ada hirarki buruh-pemilik modal karena sistem kapitalis cenderung mengeksploitasi manusia. Komunisme memiliki keberpihakan yang sangat tinggi terhadap rakyat miskin, yang disebut sebagai proletar, dan menolak kapitalisme yang dianggapnya adalah penghisapan manusia atas manusia. Itulah kenapa PKI pada masanya mampu menjadi partai terbesar ketiga di Indonesia. Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah rakyat miskin di negara yang baru lepas dari penjajahan mendukungnya; dan itu sama sekali tidak berhubungan dengan ateisme.

Salah satu penyebab dihubung-hubungkannya ateisme dengan komunisme, mungkin adalah kata-kata Karl Marx, “Agama adalah candu bagi massa rakyat.” Hal lain yang sering diingat adalah syair lagu Internationale–lagu mars komunis internasional–yang berbunyi, “Tiada maha-juru-s’lamat/Tidak Tuhan atau raja.” Kesan bahwa komunisme itu bukan hanya ateis tapi juga anti-teis bisa jadi disebabkan tindakan represif terhadap kehidupan beragama yang banyak terjadi di negara-negara komunis. Namun demikian, perlu diingat, pemberangusan di negara komunis bukan hanya ditujukan pada kelompok agama, melainkan juga pada kelompok liberal, pendukung demokrasi multipartai, serta kaum oposisi dan pembangkang.

Anti-teis dan ateis tidak tepat disandangkan pada komunisme/marxisme. Yang lebih tepat sebetulnya adalah bahwa komunisme/marxisme anti agama. Lebih tepat lagi, anti struktur kekuasaan agama yang sengaja dipelihara disamping kekuasaan raja untuk melemahkan daya kritis dan daya juang rakyat melawan tirani. Persisnya yang dilawan oleh komunisme adalah struktur kekuasaan agama dalam pemerintahan dan kehidupan politik sebagai alat kontrol (melalui mekanisme obat bius/candu pengurang rasa sakit bagi penderitaan dan kemiskinan) rakyat.

Di Indonesia, cap ateis pada komunis dan sebaliknya adalah hasil dari propaganda rejim Orde Baru yang ingin melenyapkan partai besar dan jutaan pendukungnya tersebut secara instan dan dalam jangka panjang. Guna mendapatkan dukungan kelompok agama, maka rejim Orde Baru mempropagandakan bahwa komunis adalah ateis, musuh agama, sehingga mereka harus diberantas dari bumi Indonesia. Lebih dari satu juta orang dibunuh, jutaan lainnya dirampas harta benda dan hak-hak sipilnya, dipenjara tanpa pengadilan, dibuang ke Pulau Buru akibat kampanye antikomunis di tahun 60-an ini.

Tan Malaka atau Haji Misbach beragama.

Tan Malaka adalah muslim yang saleh. Tan malaka adalah anggota Partai Sarekat Islam, dan sebagian anggota partai ini berpaham komunis, termasuk juga Semaun dan Tan Malaka, karena itu kelompok ini biasa disebut Sarekat Islam Merah. Sebagaimana Semaun, Tan Malaka pun juga muslim yang taat melakukan solat lima waktu, membaca alqur’an hampir tiap hari (dia kecilnya dipesantren, bukankah dia asli Padang yang secara tradisi adalah penganut islam yang taat?). Juga jangan lupakan Haji Misbach, seorang kyai komunis dari Surakarta, juragan batik sukses yang menguasai ilmu tafsir alqur’an dan kitab kitab kuning. Jadi islam dan komunis bisa dianut sekaligus oleh satu orang, karena sejatinya memang tidak bertentangan.


Semua Artikel Tentang Ateis Berdasarkan Sumber:Anda Bertanya Ateis Menjawab

http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/ 
Read More --►

Kenapa anda tidak jadi agnostik saja? Bukankah itu posisi yang lebih jujur?

Kenapa anda tidak jadi agnostik saja? Bukankah itu posisi yang lebih jujur? (Tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak)

Pertama-tama kita bahas dulu arti dari agnostik. Agnostik berasal dari kata "A" yang berarti "tidak" dan "Gnostik" yang berarti "tahu". Jadi Agnostik artinya tidak tahu. Seringkali arti ini diperpanjang menjadi "Tidak tahu apakah Tuhan ada atau tidak". Jadi Agnostik adalah jawaban dari pertanyaan: "Apakah anda tahu bahwa Tuhan itu ada atau tidak?".

Agnostikisme dan Ateisme tidak berada dalam satu kategori. Mirip seperti "Kendaraan" dan "Roda Empat". Tidak semua kendaraan ber-roda empat, tapi ada kendaraan yang ber-roda empat. Ateisme berangkat dari pertanyaan yang berbeda dari Agnostik-isme. Pertanyaannya adalah: "Apakah anda percaya Tuhan itu ada?". Yang tidak percaya disebut Ateis, dan yang percaya disebut Teis.

Dari sini kita bisa ambil kesimpulan adanya empat macam golongan:

1. Teis Gnostik.
Yaitu mereka yang tahu Tuhan itu ada, sehingga otomatis percaya Tuhan itu ada.

2. Teis Agnostik
Yaitu mereka yang tidak tahu Tuhan itu ada atau tidak, tetapi percaya Tuhan itu ada.

3. Ateis Agnostik
Yaitu mereka yang tidak tahu Tuhan itu ada atau tidak, tetapi tidak percaya bahwa Tuhan itu ada.

4. Ateis Gnostik
Yaitu mereka yang tahu Tuhan itu tidak ada. Dan tentunya tidak percaya Tuhan.

Kembali ke pertanyaan awal, mayoritas dari yang bertanya seperti itu sebenarnya bermaksud menanyakan seperti ini: "Kenapa anda jadi Ateis Gnostik, dan tidak menjadi Teis Agnostik saja?"

Pertanyaan tersebut mengasumsikan yang ditanya adalah Ateis Gnostik, yang belum tentu benar. Sebagian ateis adalah ateis yang memang sudah agnostik (lihat no.3). Meminta mereka untuk percaya tuhan adalah hal percuma, karena "percaya" bukanlah sesuatu yang bisa dipilih atau di-setel seperti tombol on-off. Percaya-Tidak Percaya merupakan suatu kondisi diluar kuasa orang yang percaya/tidak percaya, mirip seperti doyan duren/tidak doyan duren, berbeda dengan tahu-tidak tahu yang dipengaruhi dengan ada/tidaknya bukti.

Bagaimana dengan mereka yang masuk kategori #4 atau Ateis Gnostik? Posisi ini biasanya diduduki oleh Ateis yang menganggap Tuhan sama dengan Doraemon atau Sinterklas atau Nyi Roro Kidul atau tokoh-tokoh fiksi/mitos lainnya. Argumen Ateis Gnostik adalah: Saya tidak agnostik terhadap Doraemon (Saya TAHU Doraemon itu cuma tokoh fiksi); Kenapa saya harus agnostik terhadap Tuhan? Kalau saya harus agnostik terhadap Tuhan, maka saya pun menuntut para Teis untuk agnostik terhadap Doraemon dan Sinterklas, karena sampai sekarang tidak ada yang bisa membuktikan bahwa Doraemon dan Sinterklas TIDAK BENAR-BENAR ADA.

Perlu dicatat, bahwa posisi Ateis Gnostik bukan berarti dia adalah seorang A-Deis Gnostik. Tuhan Deis tidak sama dengan Tuhan Teis. Tuhan Deis adalah memang Tuhan yang tidak bisa difalsifikasi eksistensinya, sehingga ada-tidaknya tuhan Deis pun menjadi tidak penting atau irelevan untuk dibahas.



Semua Artikel Tentang Ateis Berdasarkan Sumber:Anda Bertanya Ateis Menjawab

http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/ 
Read More --►

Pernikahan: Bagaimana cara ateis menikah? Bagaimana prosesi pernikahan ateis?

Pernikahan: Bagaimana cara ateis menikah? Bagaimana prosesi pernikahan ateis?

Prakteknya di Indonesia:
Orang ateis di indonesia, akan menikah sesuai dengan agama dan kebudayaan yg dianut keluarga masing-masing mempelai, yg kemudian disepakati akan menggunakan adat dan agama keluarga mempelai pria atau keluarga mempelai wanita.

Praktek di negara lain:
Tergantung situasi dan kondisi. Kalau menikahnya di Indonesia ya menuruti aturan main di Indonesia. Kalau menikahnya di Belanda ya menuruti hukum Belanda. Kalau menikahnya di Amerika ya menuruti aturan Amerika.

Idealnya:
Pernikahan adalah perayaan cinta antara dua pasangan yg saling mengasihi dan berkomitmen untuk hidup bersama membentuk suatu keluarga. Tidak butuh agama untuk itu, tidak butuh diresmikan dalam ritual keagamaan, acara pernikahan justru bisa dibuat bebas seperti yg pasangan impikan, bisa dibuat seromantis mungkin dimana fokusnya adalah cinta dari pasangan itu sendiri :)

Analisis:
Prosesi pernikahan memang bentuk formalitas dari sebuah komitmen. Untuk menunjukkan bahwa benar sebuah komitmen itu sungguh-sungguh maka perlu media untuk komitmen dituangkan. Untuk hal-hal kecil bisa cukup saling bersalaman, atau membuat surat perjanjian sederhana. Prosesi ini berguna sebagai sebuah momen. Manusia pada hakikatnya butuh momen untuk bisa dikenang, ditandai sbg sesuatu yg berharga. Dan ini produk budaya.



Semua Artikel Tentang Ateis Berdasarkan Sumber:Anda Bertanya Ateis Menjawab

http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/ 
Read More --►

Lebih dulu mana Telur atau Ayam

Lebih dulu mana Telur atau Ayam

Kalau yang ditanyakan lebih dulu mana telur ayam atau ayam, maka pertanyaan ini tidak bisa dijawab tanpa memberi definisi yang tegas mengenai apa yang dimaksud dengan "telur ayam."

Bagaimana kita menamai telur? Apakah telur X adalah telur yang dikeluarkan dari induk X atau telur yang darinya menetas seekor anak X?

Misalkan seekor buaya bertelur dan dari telur itu menetas seekor gajah, maka telur itu dinamai apa? Telur buaya--karena keluar dari buaya--atau telur gajah--karena dari telur itu keluar seekor gajah?

Misalnya seekor red jungle fowl bertelur dan dari telurnya itu menetaslah seekor ayam. Dinamai apa telurnya? Telur red jungle fowl atau telur ayam?

Misalnya seekor red jungle fowl dengan 99% gen ayam bertelur dan dari telur itu menetaslah seekor ayam 100%. Dinamai apa telurnya? Telur red jungle fowl dengan 99% gen ayam atau telur ayam 100%?

Kalau kita sudah mendefinisikan bagaimana menamai telur--berdasarkan yang menetas darinya atau berdasarkan siapa induknya--maka pertanyaan ini bisa dijawab.
Read More --►

Lebih Lanjut Terkait Penampakan Hantu

Lebih Lanjut Terkait Penampakan Hantu

Ada banyak penjelasan yang dapat menjelaskan fenomena penampakan hantu, dan bagaimana seseorang dapat “melihatnya” atau “merasakannya”. Diantara penjelasan-penjelasan tersebut ada beberapa yang cukup simpel. Yang pertama adalah pareidolia.

Pareidolia adalah tipe ilusi atau salah persepsi yang melibatkan stimulus kabur yang dipandang jelas dan berbeda (Schick and Vaughn, 2001). Contohnya seperti ketika kita melihat bentuk jerapah di awan, atau bentuk-bentuk wajah di berbagai hal, bahkan deretan tanda baca seperti “:-)” bisa dipandang sebagai sebuah wajah, lengkap dengan atribut emosional yakni emosi senang.

Hal yang sama juga terjadi ketika kita dihadapkan pada berbagai gambar yang bentuknya memang mirip dengan wajah manusia meskipun sebenarnya bukan. Itulah yang sering muncul pada foto-foto atau rekaman penampakan. Selain itu suara yang sebenarnya acak, namun karena terdengar mirip, akhirnya juga dapat dipersepsi sebagai suara “seseorang” yang sedang menangis atau tertawa.

Penjelasan berikutnya adalah magnetism dan infrasound. Di bumi ini terdapat berbagai sumber medan magnet serta infrasound (suara dengan frekuensi di bawah 20 Hz). Medan magnet dapat muncul dari bumi itu sendiri pada fenomena yang disebut geomagnetism, dan medan magnet dapat juga muncul dalam wujud elektromagnet. Sedangkan infrasound dapat dihasilkan oleh banyak sekali benda-benda seperti hembusan angin, getaran pepohonan, getaran besi, dan berbagai sumber lainnya. Namun, apa kaitannya medan magnet dan infrasound dengan penampakan?

Pada penelitian yang dilakukan oleh Persinger, Tiller dan Koren (2000), dilakukan pemaparan medan elektromagnetik sebesar 10 milliGauss dengan pola gelombang yang rumit kepada otak partisipan. Hasilnya adalah partisipan tersebut merasakan keberadaan sesuatu dan rasa takut yang amat sangat, diikuti dengan munculnya penampakan visual yang mirip dengan penampakan yang pernah ia lihat di rumahnya. Kebanyakan bangunan memiliki medan elektromagnet sekitar 0.2 sampai 2 milliGauss. Tetapi, berbagai investigasi lapangan menemukan medan magnet yang kekuatannya di atas rata-rata pada tempat-tempat yang dianggap angker (Persinger et al., 2001; Roll et al., 1996).

Kemudian ada juga penelitian terkait infrasound yang dilakukan oleh Vic Tandy (1998) seorang pengajar di Coventry University. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa getaran dengan frekuensi sekitar 19 Hz menyebabkan pengalaman penampakan hantu. Ketika seseorang terpapar getaran dengan frekuensi tersebut, ia akan menunjukkan berbagai simtom seperti keringat dingin, perasaan merinding, kesulitan bernapas, serta rasa takut dan dorongan untuk segera pergi dari tempat itu. Uniknya, getaran ini dapat beresonansi dengan mata manusia sehingga menyebabkan gangguan kecil, yang bersifat sementara, membuat “terlihatnya” sosok berwarna putih atau abu-abu. Sosok itu seringkali muncul di sudut mata dan ketika berusaha fokus kepada sosok itu, maka sosok itu akan menghilang. Hal ini cukup menjelaskan mengapa banyak penampakan yang sosoknya berwarna putih.

Predator-predator di alam liar banyak yang saling berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan infrasound ketika mereka sedang berburu. Sehingga secara alami spesies-spesies yang berhasil meneruskan keturunan hingga saat ini hanyalah spesies yang memiliki sensitivitas terhadap infrasound, termasuk manusia. Hal ini menjelaskan mengapa manusia memiliki reaksi yang seperti demikian terhadap infrasound.


Lalu, fenomena melihat hantu dapat juga merupakan halusinasi lain yang mungkin merupakan simtom psikosis, gangguan saraf, atau gangguan psikologis lainnya. Halusinasi adalah adanya persepsi sesuatu meskipun tidak ada stimulus yang mendasarinya, dengan kata lain melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang tidak ada. Terdapat banyak gangguan mental dan fisik yang dapat menimbulkan halusinasi. Gangguan tersebut ada yang ringan, ada juga yang berat sampai orang yang mengalaminya tidak dapat diajak melakukan interaksi yang bermakna.

Jika seseorang melihat sesuatu (termasuk hantu), namun orang-orang lain tidak dapat melihatnya, maka orang tersebut bisa dikatakan mengalami halusinasi. Apa yang dialaminya tersebut bisa saja merupakan simtom dari gangguan yang sebenarnya lebih kompleks. Beberapa dari gangguan tersebut memiliki basis genetis dan dapat diturunkan kepada anak dari pengidap, hal ini menjelaskan kenapa kemampuan melihat hantu sering dikatakan diwariskan turun temurun. Sayangnya, seringkali halusinasi ini bukannya ditangani sebagai gangguan mental tapi malah dianggap sebagai kemampuan spesial, sehingga gangguannya bisa jadi semakin berlarut-larut.

Selain penjelasan-penjelasan di atas sebenarnya masih ada lagi penjelasan lain, seperti perubahan suhu dan sebagainya. Penjelasan ilmiah juga dapat ditemukan untuk fenomena seperti debus, santet, dan fenomena lainnya. Namun, intinya adalah akan lebih menyenangkan dan bermanfaat jika kita berpikir kritis dalam mengkaji berbagai fenomena dan tidak begitu saja terpuaskan oleh penjelasan supranatural. Semoga teman-teman bisa menjadi lebih kritis dalam berpikir dan selalu ingat bahwa klaim yang luar biasa, membutuhkan bukti yang luar biasa (Carl Sagan).
Read More --►